Minggu, 28 Agustus 2016

Aku, yang tak pernah pergi

     Untukmu yang begitu sulit untuk ku lepaskan. Mengapa hati ini begitu naif akan cinta yang sulit untuk dimiliki? Saat semua yang ku anggap istimewa, nyatanya hanya biasa saja.
Harapan, ia masih sanggup bertahan di sana. Memperhatikanmu yang telah lama mengisi ruang hati ini. Mencintaimu itu menyenangkan, namun nyatanya semua ini sangat melelahkan. Beribu kali aku berusaha untuk pergi membawa hati yang rapuh. Berusaha menjauhimu yang berkali-kali hadirkan rasa perih. Namun nyatanya semua itu tak pernah bisa untuk ku lakukan. Aku masih tetap kembali mencintaimu lagi dan lagi. Seperti hujan yang tak pernah bosan untuk membasahi bumi walau mereka sudah terjatuh berkali-kali.
     Adakah sosok yang setulus diriku? Yang mencintaimu dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Setiap kesakitan yang terukir, aku hanya tersenyum layu dan berusaha memaafkan. Membencimu, ialah membunuh diriku sendiri secara perlahan. Karena lagi-lagi, aku memaafkan setiap kesakitan yang ada. Semua itu membuatku menjadi lebih dewasa dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Aku, yang tak pernah pergi dari hidupmu. Entah sampai kapan aku harus terus bertahan di sana. Padahal, cinta itu sangat sulit untuk ku miliki seutuhnya. Namun cinta tak pernah memberiku alasan mengapa aku masih bertahan walau berkali-kali tersakiti. Cinta juga tak pernah memberiku alasan mengapa aku selalu memaafkan. Namun itulah cinta yang tulus. Ia tak pernah tahu mengapa harus bertahan pada satu cinta yang membuatnya hancur.
     Pernah suatu hari sebuah pesan singkat datang dari dirimu yang mencariku. Aku bersumpah lelah untuk kembali menyapamu. Namun nyatanya, semua melebur tatkala hati ini kembali mencintaimu. Aku tak pernah bisa meninggalkanmu. Berusaha tak lagi memperdulikanmu hanyalah usaha yang sia-sia. Setiap kali aku tak memperdulikanmu, yang aku rasakan adalah duri-duri yang menancap dalam hati beserta pisau cemeti yang menusuk tulang dada. Aku berusaha berlari sekuat tenaga menjauhimu yang sia-sia. Namun melihatmu bersedih dan menangis di sana, membuat langkahku terhenti ketika pergi. Mengapa bisa aku yang sudah melangkah pergi jauh harus kembali saat melihatmu begitu bersedih. Nyatanya, aku tak ingin melihatmu menangis sendirian. Kesedihanmu adalah kesalahan bagiku. Hingga pada akhirnya aku tak pernah ingin pergi darimu. Biarlah aku tetap bertahan di sana. Namun harus kau tahu, bahwa cintaku tak pernah ternilai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar