Untukmu yang begitu sulit untuk ku lepaskan. Mengapa hati ini begitu naif akan cinta yang sulit untuk dimiliki? Saat semua yang ku anggap istimewa, nyatanya hanya biasa saja.
Harapan, ia masih sanggup bertahan di sana. Memperhatikanmu yang telah lama mengisi ruang hati ini. Mencintaimu itu menyenangkan, namun nyatanya semua ini sangat melelahkan. Beribu kali aku berusaha untuk pergi membawa hati yang rapuh. Berusaha menjauhimu yang berkali-kali hadirkan rasa perih. Namun nyatanya semua itu tak pernah bisa untuk ku lakukan. Aku masih tetap kembali mencintaimu lagi dan lagi. Seperti hujan yang tak pernah bosan untuk membasahi bumi walau mereka sudah terjatuh berkali-kali.
Adakah sosok yang setulus diriku? Yang mencintaimu dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Setiap kesakitan yang terukir, aku hanya tersenyum layu dan berusaha memaafkan. Membencimu, ialah membunuh diriku sendiri secara perlahan. Karena lagi-lagi, aku memaafkan setiap kesakitan yang ada. Semua itu membuatku menjadi lebih dewasa dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Aku, yang tak pernah pergi dari hidupmu. Entah sampai kapan aku harus terus bertahan di sana. Padahal, cinta itu sangat sulit untuk ku miliki seutuhnya. Namun cinta tak pernah memberiku alasan mengapa aku masih bertahan walau berkali-kali tersakiti. Cinta juga tak pernah memberiku alasan mengapa aku selalu memaafkan. Namun itulah cinta yang tulus. Ia tak pernah tahu mengapa harus bertahan pada satu cinta yang membuatnya hancur.
Pernah suatu hari sebuah pesan singkat datang dari dirimu yang mencariku. Aku bersumpah lelah untuk kembali menyapamu. Namun nyatanya, semua melebur tatkala hati ini kembali mencintaimu. Aku tak pernah bisa meninggalkanmu. Berusaha tak lagi memperdulikanmu hanyalah usaha yang sia-sia. Setiap kali aku tak memperdulikanmu, yang aku rasakan adalah duri-duri yang menancap dalam hati beserta pisau cemeti yang menusuk tulang dada. Aku berusaha berlari sekuat tenaga menjauhimu yang sia-sia. Namun melihatmu bersedih dan menangis di sana, membuat langkahku terhenti ketika pergi. Mengapa bisa aku yang sudah melangkah pergi jauh harus kembali saat melihatmu begitu bersedih. Nyatanya, aku tak ingin melihatmu menangis sendirian. Kesedihanmu adalah kesalahan bagiku. Hingga pada akhirnya aku tak pernah ingin pergi darimu. Biarlah aku tetap bertahan di sana. Namun harus kau tahu, bahwa cintaku tak pernah ternilai.
Minggu, 28 Agustus 2016
Surat untuk calon makmumku
Assalamualaikum jodohku di sana. Apa kabarnya hari ini duhai yang telah Allah takdirkan untukku?
Aku berharap, kamu adalah wanita yang shalihah yang mampu menjaga kesucian dirinya. Terkadang, aku bertanya-tanya, siapakah yang akan menjadi jodoh dunia akhiratku kelak.
Duhai jodohku, setiap hari aku tambatkan namamu di dalam do'aku. Menyebut namamu dengan tulus dan ikhlas.
Aku berharap, kita akan segera dipersatukan dalam ikatan yang halal. Aku terus bercermin kepada diriku sendiri tentang bagaimanakah diriku saat ini. Aku ingin menjadi imam yang baik yang mampu membimbingmu kelak.
Wahai calon makmumku, masih setiakah engkau hari ini untuk mempersiapkan diri? Masih tetapkah hari ini engkau memantaskan diri? Aku masih setia dan tetap menata diri agar kelak diri ini pantas disandingkan bersamamu.
Aku ingin mencintaimu dalam taqwa karena Allah. Yang saling membina untuk mencapai jannah-Nya. Aku ingin rumah tangga kita dipenuhi dengan mahligai kebahagiaan cinta. Yang selalu menjadikan Allah sebagai sandaran cinta, dan Rasulullah sebagai suri tauladannya.
Siapakah engkau wahai calon makmumku? Ia kah seseorang yang dekat bersamaku saat ini? Ataukah seseorang yang dulu pernah mengisi ruang hati? Atau mungkin seseorang yang pernah aku ikhlaskan? Bahkan, mungkinkah seseorang yang kelak Allah kirim pada saat itu tiba?
Entahlah... Sebab cinta memang misteri yang indah adanya. Ia adalah misteri yang selalu aku kagumi kehadirannya.
Duhai calon makmumku, semoga Allah selalu bersamamu....
Aku berharap, kamu adalah wanita yang shalihah yang mampu menjaga kesucian dirinya. Terkadang, aku bertanya-tanya, siapakah yang akan menjadi jodoh dunia akhiratku kelak.
Duhai jodohku, setiap hari aku tambatkan namamu di dalam do'aku. Menyebut namamu dengan tulus dan ikhlas.
"Ya Allah, jagalah selalu jodohku di sana. Persatukanlah kami pada waktunya tiba. Ya Allah, siapakah sebenarnya jodoh dunia akhirat itu?
Wahai calon makmumku, masih setiakah engkau hari ini untuk mempersiapkan diri? Masih tetapkah hari ini engkau memantaskan diri? Aku masih setia dan tetap menata diri agar kelak diri ini pantas disandingkan bersamamu.
Aku ingin mencintaimu dalam taqwa karena Allah. Yang saling membina untuk mencapai jannah-Nya. Aku ingin rumah tangga kita dipenuhi dengan mahligai kebahagiaan cinta. Yang selalu menjadikan Allah sebagai sandaran cinta, dan Rasulullah sebagai suri tauladannya.
Siapakah engkau wahai calon makmumku? Ia kah seseorang yang dekat bersamaku saat ini? Ataukah seseorang yang dulu pernah mengisi ruang hati? Atau mungkin seseorang yang pernah aku ikhlaskan? Bahkan, mungkinkah seseorang yang kelak Allah kirim pada saat itu tiba?
Entahlah... Sebab cinta memang misteri yang indah adanya. Ia adalah misteri yang selalu aku kagumi kehadirannya.
Duhai calon makmumku, semoga Allah selalu bersamamu....
Mengenal lebih dekat tentang buku "Ketika Diri Menghijrahkan Cinta"
Bismillah!
Hallo! Perkenalkan nama saya Ilman Mualiman. Inspirator muda, motivator cinta, jomblo lillah, penulis buku Ketika Diri Menghijrahkan Cinta ^.^
Alhamdulillah setelah hampir dua bulan merenungkan banyak ide, gagasan, serta materi tentang cinta, akhirnya saya dapat menerbitkan buku pertama saya ini. Prosesnya tidak mudah. Kegagalan demi kegagalan terjadi. Rintangan dan hambatan satu persatu menghalangi. Namun keteguhan hati tetap berdiri untuk menyelesaikan semuanya. Karena siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil. Dan ternyata memang benar.
Buku Ketika Diri Menghijrahkan Cinta ialah buku yang ditulis dengan berjuta harapan yang nyata. Berharap setiap pembacanya akan terinspirasi dari setiap isi di dalam buku tersebut. Di dalam buku ini ada banyak materi yang terbungkus dengan ilmu. Tentang bagaimana indahnya pacaran yang ternyata salah, tentang bagaimana sulitnya mencintai dalam diam, tentang sebaik-baiknya cinta, tentang pata hati dan bangkit dari kesedihan, tentang jomblo dan masih banyaaakk lagi.
Siapa sangka, buku ini ditulis salah satunya berdasarkan motivasi cinta. Karena saya ingin membuktikan bahwa cinta itu seharusnya membangkitkan semangat, bukan malah menghancurkan semangat.
Intinya sih di dalam buku ini saya tidak bermaksud menyinggung siapapun. Semoga pembaca buku ini akan merasa terinspirasi saat menerima nasehat itu. Bukan malah tersinggung, marah lalu membenci. Coba diingat kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini:
Hallo! Perkenalkan nama saya Ilman Mualiman. Inspirator muda, motivator cinta, jomblo lillah, penulis buku Ketika Diri Menghijrahkan Cinta ^.^
Alhamdulillah setelah hampir dua bulan merenungkan banyak ide, gagasan, serta materi tentang cinta, akhirnya saya dapat menerbitkan buku pertama saya ini. Prosesnya tidak mudah. Kegagalan demi kegagalan terjadi. Rintangan dan hambatan satu persatu menghalangi. Namun keteguhan hati tetap berdiri untuk menyelesaikan semuanya. Karena siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil. Dan ternyata memang benar.
Buku Ketika Diri Menghijrahkan Cinta ialah buku yang ditulis dengan berjuta harapan yang nyata. Berharap setiap pembacanya akan terinspirasi dari setiap isi di dalam buku tersebut. Di dalam buku ini ada banyak materi yang terbungkus dengan ilmu. Tentang bagaimana indahnya pacaran yang ternyata salah, tentang bagaimana sulitnya mencintai dalam diam, tentang sebaik-baiknya cinta, tentang pata hati dan bangkit dari kesedihan, tentang jomblo dan masih banyaaakk lagi.
Siapa sangka, buku ini ditulis salah satunya berdasarkan motivasi cinta. Karena saya ingin membuktikan bahwa cinta itu seharusnya membangkitkan semangat, bukan malah menghancurkan semangat.
Intinya sih di dalam buku ini saya tidak bermaksud menyinggung siapapun. Semoga pembaca buku ini akan merasa terinspirasi saat menerima nasehat itu. Bukan malah tersinggung, marah lalu membenci. Coba diingat kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini:
"Jangan menasehati orang bodoh, karena ia akan membencimu. Nasehatilah orang yang berakal, maka ia akan mencintaimu."
Nah begitulah orang yang berakal. Ketika menerima nasehat, ia akan menerima, memperbaiki, lalu mencintai. Tapi orang bodoh pasti akan merasa teringgung, marah, lalu membenci saat dinasehati. Jadi, saya harap ketika kamu membaca buku ini, kamu akan menerima setiap nasehat di dalamnya.
Insya Allah buku ini akan terbit dalam beberapa waktu lagi. Kalau tak ada aral melintang, buku ini sudah bisa dipesan dalam beberapa waktu lagi. Do'akan saja semoga lancar ya kawan-kawan :)
Insya Allah buku ini akan terbit dalam beberapa waktu lagi. Kalau tak ada aral melintang, buku ini sudah bisa dipesan dalam beberapa waktu lagi. Do'akan saja semoga lancar ya kawan-kawan :)
Itulah dia pengenalan tentang buku Ketika Diri Menghijrahkan Cinta. Semoga setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Karena kita tidak pernah tahu tulisan mana yang akan membuka pintu hati dan tulisan mana yang akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Maka dari itu, tetaplah menjadi seorang penebar kebaikan.
Wassalam!
Cinta ditolak, Do’a bertindak
Kalau dibaca dari judulnya sih, kayanya kita akan dibawa ke dalam suasana yang menyakitkan. Patah hati? Bisa jadi. Karena cinta ditolak itu rasanya, beuh! Sadis! Tapi tenang gan, semua kesakitan itu pasti ada hikmahnya.
Cinta
adalah rasa yang paling indah adanya. Namun bila pada akhirnya cinta itu tak
terbalas? Hmmm siap-siap buat merasakan getih sebagai getahnya. Penolakan dalam
cinta itu benar-benar tak diinginkan kehadirannya. Tapi apa boleh buat?
Takdir-Nya tak pernah main-main kebenarannya. Saat ia yang menolak kita dengan
tragisnya mematahkan semua pengharapan, kita hanya bisa tersenyum layu menahan
rasa sakit di dalam dada. Aneh, dia yang kita anggap punya rasa yang lebih,
nyatanya biasa-biasa saja.
“Kamu mau gak jadi
pacarku?
“Maaf, kamu
terlalu baik buat aku. Kita temenan aja”
Ehem! Kalau sudah terjadi penolakan
seperti itu, apa kita masih boleh mengharapkannya?
Boleh,
namun berharapnya ialah kepada Allah Sang Maha Cinta. Jika memang kamu masih
mengharapkan si dia, maka lebih baik ubahlah harapan itu hanya kepada Allah
semata. Biarlah Allah menyelesaikan semuanya dengan cara yang indah. Jika kamu masih mengharapkannya, maka genggamlah selalu harapan itu di dalam do'a.
Jika
kamu masih ingin mengharapkan si dia, maka berharaplah pada Allah agar
diberikan yang terbaik. Jika cinta ditolak, maka jadikanlah do’a sebagai
tindakan yang tepat untuk mencurahkan semuanya kepada Allah. Berdo’alah
kepada-Nya dengan penuh tuntunan bukan tuntutan.
Do’a tuntutan:
“Ya Allah,
jadikanlah ia kekasihku. Aku sangat mencintainya, maka jadikanlah ia pacarku”
Do’a tuntunan:
“Ya Allah, jika
memang ia jodohku, maka dekatkanlah. Tapi jika bukan, tolong selesaikan
semuanya dengan cara yang indah.
Jadikanlah do’a sebagai senjata yang
paling ampuh untuk meminta segalanya. Biarkanlah do’a menjadi ibadah yang hadir
dalam sebuah kesakitan. Akan lebih indah bila do’a diiringi dengan derai air
mata yang menyejukkan jiwa. Air mata yang terjatuh karena menangisi niat akan
berpacaran, bukan air mata yang terjatuh karena cinta ditolak, pacaran tak
jadi.
Semoga
aku, kamu, dan mereka yang ditolak akan selalu menjadika do’a sebagai tindakan
yang paling tepat untuk meminta segalanya.
Rabu, 24 Agustus 2016
Mencintaimu Itu Melelahkan
Mengapa cinta tak pernah paham, bahwa ada rasa yang seharusnya menjadi nyata
Mengapa cinta tak pernah mengerti, bahwa ada harapan yang seharusnya sampai ke hati.
Entahlah, kadang cinta memang rumit jadinya. Mungkin ia hanya ingin mengajari kita bahwa tak semua harapan bisa menjadi kenyataan. Hal itulah yang membuat kita lebih dewasa untuk belajar menerima. Entah itu menerima kecewa ataupun menerima bahagia. Mungkin, hati yang selalu menerima ialah hati yang selalu menyediakan ruang kebahagiaan seluas-luasnya.
Meski pada akhirnya rasa itu tak menjadi nyata, percayalah bahwa aku masih setia mencintaimu dengan tulus. Namun nyatanya, mencintaimu itu melelahkan. Sulit untuk melepaskan semua yang telah digenggam erat sepenuh hati. Dan kamu tahu rasanya? Ia bagaikan menggenggam seikat mawar yang durinya menusuk jari. Berdarah, namun aku tak perduli jadinya. Kadang aku selalu bertanya, apakah aku terlalu kuat untuk bertahan, atau justeru terlalu lemah untuk melepaskan?
Darimu, aku belajar untuk tahu bagaimana pedihnya sebuah harapan. Namun lagi-lagi hati ini selalu memaafkannya. Kadang cinta memang harus begitu jadinya.
Entah sampai kapan aku harus berharap. Namun nyatanya, mencintaimu itu melelahkan...
Mengapa cinta tak pernah mengerti, bahwa ada harapan yang seharusnya sampai ke hati.
Entahlah, kadang cinta memang rumit jadinya. Mungkin ia hanya ingin mengajari kita bahwa tak semua harapan bisa menjadi kenyataan. Hal itulah yang membuat kita lebih dewasa untuk belajar menerima. Entah itu menerima kecewa ataupun menerima bahagia. Mungkin, hati yang selalu menerima ialah hati yang selalu menyediakan ruang kebahagiaan seluas-luasnya.
Meski pada akhirnya rasa itu tak menjadi nyata, percayalah bahwa aku masih setia mencintaimu dengan tulus. Namun nyatanya, mencintaimu itu melelahkan. Sulit untuk melepaskan semua yang telah digenggam erat sepenuh hati. Dan kamu tahu rasanya? Ia bagaikan menggenggam seikat mawar yang durinya menusuk jari. Berdarah, namun aku tak perduli jadinya. Kadang aku selalu bertanya, apakah aku terlalu kuat untuk bertahan, atau justeru terlalu lemah untuk melepaskan?
"Sejatinya, cinta itu mengajarkan kita arti ketulusan, keikhlasan, kekuatan serta ketangguhan"Darimu, aku belajar untuk tahu bagaimana rasanya ikhlas dan tulus untuk mempertahankan cinta.
Darimu, aku belajar untuk tahu bagaimana pedihnya sebuah harapan. Namun lagi-lagi hati ini selalu memaafkannya. Kadang cinta memang harus begitu jadinya.
Entah sampai kapan aku harus berharap. Namun nyatanya, mencintaimu itu melelahkan...
Langganan:
Komentar (Atom)